MotoGP Magz

Rabu, 05 April 2017

Bendera Merah Putih Hiasi Motor Yamaha Rossi dan Vinales di MotoGP Qatar 2017

Bendera Merah Putih Hiasi Motor Yamaha Rossi dan Vinales
MotoGP Magz -- Gambar Bendera Merah Putih (Indonesia) menempel pada motor Yamaha YZR-M1 yang ditunggangi Valentino Rossi dan Maverick Vinales pada seri perdana MotoGP 2017 di Losail, Qatar, Minggu (26/3/2017).

Pemasangan bendera nasional Indonesia plus tulisan berbahasa Indonesia "Semakin di Depan" itu merupakan apresiasi Yamaha MotoGP pada musim 2017 ini untuk Indonesia.

Bendera merah putih itu terpasang kecil pada tameng angin (windshield) bagian samping sepeda motor Yamaha Rossi dan Vinales.

Menurut PT Yamaha Indonesia Motor Manufacturing (YIMM), dipasangnya gambar bendera merah putih itu bisa menjadi kebanggaan buat bangsa Indonesia.

YIMM menyatakan yakin, orang Indonesia akan lebih bersemangat menyaksikan balapan MotoGP, khususnya fans Rossi dan Vinales.

"Inilah kebanggaan dan membuat masyarakat dunia lebih mengenal Indonesia. Ini juga bentuk penghargaan untuk fans tim Movistar Yamaha MotoGP, fans Rossi dan Vinales di Indonesia yang terkenal fanatik dan sangat menyukai MotoGP,” ujar GM Aftersales & Public Relation YIMM, M Abidin, dikutip Tribunnews.

Menurut Abidin, buat lingkup motorsport Yamaha Indonesia, kehadiran bendera Indonesia pada M1 ikut menjadi motivasi tersendiri bagi rider lokal untuk berprestasi di ajang internasional.

Tulisan "Semakin di Depan" yang ada di samping merah puti merupakan slogan PT YIMM. Pemasangan bendera itu sendiri merupakan hasil kerjasama antara Yamaha Factory Racing dan YIMM selaku official sponsor.

Menurut situs motorplus, bendera Indonesia akan bergantian dipasang dengan bendera Vietnam dan Filipina sepanjang 18 seri gelaran MotoGP 2017.*

MotoGP World Standing 2017

Pos.RiderBikeNationPoints
1Maverick VIÑALESYamahaSPA25
2Andrea DOVIZIOSODucatiITA20
3Valentino ROSSIYamahaITA16
4Marc MARQUEZHondaSPA13
5Dani PEDROSAHondaSPA11
6Aleix ESPARGAROApriliaSPA10
7Scott REDDINGDucatiGBR9
8Jack MILLERHondaAUS8
9Alex RINSSuzukiSPA7
10Jonas FOLGERYamahaGER6
11Jorge LORENZODucatiSPA5
12Loris BAZDucatiFRA4
13Hector BARBERADucatiSPA3
14Karel ABRAHAMDucatiCZE2
15Tito RABATHondaSPA1
16Pol ESPARGAROKTMSPA
17Bradley SMITHKTMGBR
18Sam LOWESApriliaGBR
19Danilo PETRUCCIITA
20Andrea IANNONEITA
21Alvaro BAUTISTASPA
22Johann ZARCOFRA
23Cal CRUTCHLOWGBR

Minggu, 12 Februari 2017

Tiki-Taka di Indonesia, Solusi atau Ilusi?

Tim nasional Indonesia lolos ke final hanya enam bulan setelah FIFA mencabut sanksi. (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)
Kehadiran Luis Milla di kursi pelatih tim nasional sepak bola Indonesia memunculkan harapan besar bahwa skuat Garuda nantinya bakal mengadopsi filosofi tiki-taka nan ciamik milik Spanyol. Sebuah mimpi yang indah dan sah-sah saja.

Namun, muncul pula pertanyaan yang menggelitik. Apakah Indonesia bisa menerapkan permainan atraktif seperti yang akrab dipertontonkan Barcelona dan Timnas Spanyol dalam satu dekade terakhir?

Sebelum melangkah lebih jauh, mari memahami filosofi tiki-taka yang belakangan menjadi kiblat sepak bola Spanyol dan diwujudkan sempurna oleh Barcelona.

Milla memang hasil produk La Masia, akademi sepak bola milik Barcelona. Dia pun sempat berseragam tim senior Barcelona, namun sebelum tiki-taka menjadi sedemikian populer seperti saat ini.

Tiki-taka sendiri adalah gaya permainan sepak bola yang identik dengan umpan-umpan pendek dan mengandalkan pergerakan dinamis. Memindahkan bola melalui beragam saluran dan mempertahankan penguasaan bola.

Adopsi Total Footbal


Merujuk dari berbagai sumber, tiki-taka merupakan pengembangan dari taktik Total Football Belanda yang dipadukan dengan karakter sepak bola kaki ke kaki milik Spanyol.

Legenda Belanda, Johan Cruyff, turut andil membentuk karakter dasar sepak bola Spanyol ini kala melatih Barcelona pada periode 1988-1996.

Gaya permainan Barcelona rajutan Cruyff kemudian dikembangkan oleh para suksesornya yang juga dari Negeri Kincir Angin: Louis van Gaal dan Frank Rijkaard.

Filosofi tiki-taka di Barcelona menyentuh kesempurnaan ketika ditangani entrenador asal Spanyol Pep Guardiola pada 2008-2010, pemain generasi pertama akademi yang dibentuk Cruyff. Prinsip pola bermain Guardiola umumnya adalah 4-3-3 yang bisa bertransformasi sesuai situasi dan kondisi lawan.

Terkadang, pola tiki-taka Barca di bawah kendali Guardiola bisa terasa membosankan, terutama jika kekuatan lawan tak sebanding. Barca ‘hanya’ akan mengumpan pendek sebanyak-banyaknya, secepat-cepatnya, dan dilakukan berulang kali.

Namun, tujuan utamanya adalah memancing lawan untuk merebut bola sehingga lupa akan pola pertahanan mereka sendiri. Setelah lawan terpancing, maka Lionel Messi dkk lebih mudah merangsek pertahanan musuh.

Satu lagi yang tak kalah menarik adalah sistem pertahanan di garis pertahanan musuh. Para pemain depan Blaugrana seperti Pedro, Messi, dan Alexis Sanchez pada saat itu rela melakukan tekanan sejak bek lawan memegang bola.

Dengan serangkaian metode inilah yang membuat tim lawan kesulitan mengembangkan pola permainan sendiri.

Tiki-taka Barca arahan Guardiola pun sukses menggenggam tiga gelar Liga Spanyol secara beruntun (2008-2009, 2009-2010, dan 2010-2011) dan dua trofi Liga Champions. Mereka juga mampu merajai Piala Super Eropa dan Piala Dunia Antarklub pada 2009 dan 2011.

Sementara Timnas Spanyol —yang juga menerapkan filosofi yang sama— berhasil mengawinkan trofi bergengsi Piala Eropa 2008 (di bawah asuhan Luis Aragones) dan Piala Dunia 2010 (Vicente del Bosque).

Intelegensia dan Stamina


Menarik memang jika Timnas Indonesia menerapkan tiki-taka yang sudah menjadi darah daging Milla. Apalagi ia juga punya catatan gemilang dengan membawa Timnas Spanyol U-21menjuarai Piala Eropa 2011.

Kini, pria 53 tahun itu ditargetkan mempersembahkan medali emas SEA Games 2017. Tugas tak kalah berat juga menanti Milla. Sebab, ia juga dibebankan untuk membawa Timnas Indonesia menembus semifinal Asian Games 2018.

Ekspektasi tinggi masyarakat pencinta sepak bola Indonesia harus tetap menginjak bumi. Sebab, filosofi tiki-taka membutuhkan pemain-pemain yang memiliki intelegensia tinggi diimbangi dengan stamina yang tinggi pula. Belum lagi mempertimbangkan bahwa ada hal-hal dasar yang harus diperbaiki Milla sebelum jauh melangkah soal menerapkan tiki-taka.

Hal ini diakuinya setelah menyaksikan sejumlah pemain Indonesia lewat tayangan video pertandingan.

“Saya sudah lakukan analisis terhadap sepak bola Indonesia dan kami akan melakukan serangkaian program agar pemain bisa mengeluarkan kemampuannya dengan maksimal. Kami akan tingkatkan teknik, mental, dan fisik. Inilah yang dibutuhkan Indonesia saat ini,” ujarnya dalam konferensi pers di Jakarta, Kamis (9/2).

Ketiga faktor yang dirujuk Milla (teknik, mental, dan fisik) sejatinya hal yang paling dasar dalam sepak bola. Pelatih timnas semestinya bertugas untuk meramu taktik dan filosofi bermain, bukan justru disibukkan mengurusi tiga hal ini.


Berkaca pada Piala AFF 2016

Publik boleh sedikit berbangga menengok perjuangan Timnas Indonesia di Piala AFF 2016. Maklum, dengan segala polemik yang melanda, skuat Garuda sukses menembus final pesta sepak bola Asia Tenggara.

Namun, dewi fortuna tak mampu lagi menolong Indonesia ketika harus bertemu Thailand di final. Tim Merah Putih kalah segalanya dari Thailand dan harus menyerah dengan agregat 3-4.

Semangat juang dan keberuntungan saja tak cukup melawan Thailand yang mulai mampu menerapkan gaya tiki-taka ala Kiatisuk Senamuang.

Tim Gajah Perang tampil agresif sepanjang 90 menit tanpa berkutat dengan persoalan stamina yang masih jadi penyakit Indonesia. Semua pemain bergerak dinamis seakan tak kenal lelah untuk mengalirkan bola dari segala arah.

Sebaliknya para penggawa Indonesia, termasuk kapten Boaz Solossa tampak kelelahan meladeni permainan dinamis Thailand. Gelandang serang Stefano Lilipaly juga lebih banyak berlarian mencari bola.

Performa gelandang muda berbakat Indonesia yang meroket di Timnas U-19, Evan Dimas Darmono, juga memprihatinkan. Ia tak mampu tampil maksimal di sepanjang turnamen karena persoalan kebugaran.


Pelatih Alfred Riedl pernah menurunkan Evan sebagai starter di fase grup melawan Filipina. Namun, hasilnya mengecewakan. Staminanya jeblok. Ia bahkan kesulitan membantu pertahanan di wilayahnya sendiri.

Evan adalah pemain muda berbakat yang punya intuisi memainkan gaya tiki-taka. Gelandang 21 tahun itu punya teknik dan intelegensia cukup mumpuni sebagai pengatur ritme permainan di lini tengah.

Maklum, ia pernah digembleng pelatih Indonesia U-19, Indra Sjafri, yang juga mengadopsi tiki-taka dan sukses menjuarai Piala AFF U-19 pada 2013. Indra kala itu mempopulerkan istilah Pepepa atau pendek-pendek-panjang.

Namun, pola makan yang tak tak disiplin mulai memengaruhi daya tahan tubuhnya di lapangan. Tak heran jika Riedl pada akhirnya lebih sering memarkirnya di bangku cadangan. Riedl mengakui Evan Dimas sangat bagus secara teknik dan taktikal, tapi ia tak memiliki stamina yang ideal.

Inilah yang menjadi pekerjaan rumah terbesar sepak bola Indonesia jika ingin mengadopsi tiki-taka. Selain persoalan kecerdasan, Milla harus menghadapi pemain yang staminanya masih di bawah standar.

Saya jadi teringat kutipan Cruyff yang melegenda, “Sepak bola adalah permainan sederhana. Tapi, memainkan sepak bola yang sederhana sangat sulit.”

Di atas kertas, memainkan umpan-umpan pendek secara cepat memang terdengar sederhana. Tapi justru kesederhaan itulah yang akan menjadi tantangan terbesar Milla bersama Indonesia.

Selain merebut emas tentunya.

Beban Leicester Terkuras Hasil Negatif di Liga Inggris

Claudio Ranieri fokus mempertahankan Leicester City di Liga Primer daripada memikirkan peluang di Piala FA dan Liga Champions. (REUTERS/Craig Brough)
Leicester City masih memiliki asa bersaing di Piala FA dan Liga Champions musim ini. Namun, beban pikiran mereka terkuras dengan hasil buruk di Liga Primer Inggris.

The Foxes, julukan Leicester baru saja menelan kekalahan 0-2 dari Swansea City di Liga Inggris. Rentetan hasil buruk yang dialami mereka justru mengurangi fokus di kompetisi lainnya.

“Beban pikiran kami adalah di Liga Premier Inggris. sementara Piala FA dan Liga Champions adalah sesuatu yang berbeda,” kata Ranieri seperti dikutip BBC.

Leicester sendiri lolos ke babak lima Piala FA usai mengalahkan Derby Country 3-1 di partai ulangan, Kamis (9/2). Mereka bakal ditantang Millwall, Sabtu (18/2).

Selanjutnya, Ranieri juga harus mempersiapkan timnya untuk menghadapi babak 16 besar Liga Champions menghadapi Sevilla di Stadion Ramon Sanchez Pizjuan, Spanyol, pada 22 Februari mendatang.
Namun, peracik asal Italia itu mengaku lebih fokus membenahi mental anak asuhnya untuk menghadapi serangkaian jadwal pertandingan di Liga Inggris.

“Kami ingin tampil bagus dan dan aman di Liga Premier. Karena, target utama kami adalah untuk bertahan di Liga Premier."

Kekalahan dari Swansea praktis membuat Leicester kian terpuruk di peringkat ke-17 klasemen dengan nilai 20, terpaut satu poin dari Hull City yang sudah berada di zona degradasi.
Sebaliknya bagi Swansea, kemenangan ini membuat mereka menjauhi zona degradasi. “Si Angsa” bertengger di posisi ke-15 klasemen dengan raihan 24 poin.(cnn)

Ferrari Terpaksa Membatalkan Tes Ban Basah Pirelli

Ilustrasi Ferrari. Akibat minimnya suku cadang setelah kecelakaan yang menimpa Sebastian Vettel pada Kamis, Ferrari terpaksa membatalkan tes ban basah pada hari ini. (AFP PHOTO/Mark RALSTON)
Tim balap Formula One (F1) asal Italia, Ferrari, membatalkan tes ban basah yang disuplai Pirelli pada hari kedua uji resmi di Fiorano. Hal itu dilakoni karena Ferrari kekurangan suku cadang pasca kecelakaan yang dialami Sebastian Vettel.
Hari pembuka tes F1 di musim 2017 ini harusnya diawali dengan dua hari tes untuk mengevaluasi ban basah yang disuplai Pirelli. Namun, pada hari pertama Vettel mengalami kecelakaan dan mobil yang dipacunya menubruk pembatas trek pada Kamis (9/2).

Walhasil, akibat suku cadang yang minim, tim Kuda Jingkrak tersebut membatalkan tes hari ini.

Dalam cuplikan video yang merekam insiden kecelakaan Vettel terlihat pebalap asal Jerman itu keluar dari jalur yang sengaja dibuat basah. Mobil yang ia kendalikan melintir ke sisi kiri dan menubruk tembok pembatas.

Seperti dilansir Motor Sport, pembatalan tes hari ini pun membatalkan peluang pebalap ketiga Ferrari Antonio Giovinazzi menambah jumlah kilometer yang ia tempuh bersama mobil F1.
Mulanya, tes ban Pirelli itu untuk melihat bagaimana karakteristik ban basah sebelum dan setelah melaju di sirkuit.

Dalam kecelakan di sirkuit yang sengaja dibuat bersuhu tak lebih dari 5 derajat celsius tersebut, Vettel tak mengalami cedera serius. Hanya luka ringan di pelipis dan sikunya saja karena menghantam sisi kokpit mobil. (cnn)

Leicester Telan Kekalahan Beruntun Kelima di Liga Inggris


Hasil negatif kembali diperoleh sang juara bertahan Leicester City usai dibekuk Swansea City 0-2 di Stadion Liberty, Minggu (12/2). Ini menjadi kekalahan kelima The Foxes secara beruntun di Liga Primer Inggris.

Swansea membuka keunggulan di menit ke-36 lewat gol Alfie Mawson. Memanfaatkan umpan sundulan Federico Fernandez, bola langsung disambar tendangan voli oleh Mawson. Skor 1-0 untuk keunggulan tuan rumah.

Leicester nyaris menyamakan kedudukan di menit ke-44 jika saja tembakan Wilfred Ndidi tidak digagalkan Lucasz Fabianski.

Alih-alih mencetak gol balasan, gawang Kasper Schmeichel justru kembali bergetar untuk kali kedua. Adalah Martin Olsson yang sukses menggandakan keunggulan bagi Swansea.

Kerja sama apik antara Llorente dan Gylfi Sigurdsson dilanjutkan dengan umpan terobosan kepada Olsson yang berhasil merangsek ke kotak penalti dan sukses memperdaya Schmeichel.

Duel kedua tim sebetulnya berimbang, namun tuan rumah berhasil mencetak dua gol untuk memastikan kemenangan.

Swansea tercatat menghasilkan empat tembakan tepat sasaran dari total 10 percobaan. Sementara Leicester membuat sembilan tembakan dan satu di antaranya mengarah ke gawang.

Kekalahan ini membuat Leicester kian terpuruk di peringkat ke-17 klasemen dengan nilai 20, terpaut satu poin dari Hull City yang sudah berada di zona degradasi.

Sebaliknya bagi Swansea, kemenangan ini membuat mereka menjauhi zona degradasi. “Si Angsa” bertengger di posisi ke-15 klasemen dengan raihan 24 poin. (cnn)

Real Madrid Amankan Posisi Puncak Klasemen


Real Madrid berhasil merebut kembali posisi puncak klasemen La Liga usai menang 3-1 atas tuan rumah Osasuna di Estadio El Sadar, Sabtu (11/2).

Tambahan tiga angka kembali membawa Madrid ke puncak klasemen dengan nilai 49 poin, unggul satu angka dari Barcelona yang sempat memimpin dalam hitungan jam.

Tak hanya unggul satu angka, Madrid juga memiliki sisa dua laga lebih banyak dibandingkan Barcelona yang berarti mereka bisa menciptakan keunggulan maksimal tujuh poin atas sang rival.

Dari jalannya laga, Real Madrid unggul lebih dulu lewat gol Cristiano Ronaldo di menit ke-24 hasil umpan dari Karim Benzema. Setelah menerima bola dari Benzema, tendangan keras Ronaldo tak mampu dibendung oleh Salvatore Sirigu.

Sembilan menit berselang, tuan rumah sukses mencetak gol penyama kedudukan lewat Sergio Leon. Berawal dari sebuah skema serangan cepat, Leon lepas dari kawalan lini pertahanan Madrid saat menerima umpan Juan Rafael Fuentes.

Berhadapan satu lawan satu dengan Keylor Navas, Leon dengan dingin melakukan tendangan cungkil yang mampu mengecoh Navas.

Di babak kedua, Isco memberikan jawaban atas kepantasannya ada di skuat inti Madrid. Isco dengan cermat membaca bola liar hasil penetrasi Benzema. Isco dengan cepat bergerak merebut bola dan melepaskan tembakan silang yang menembus gawang Osasuna.

Di menit-menit akhir, Lucas Vazquez mengunci kemenangan untuk Madrid lewat gol yang dicetaknya. Torehan tiga poin yang mereka dapatkan di laga ini membuat 'Los Blancos' tetap berada di urutan terdepan dalam perburuan titel Liga Spanyol.


Susunan pemain Osasuna vs Real Madrid :


[Gambas:Sportradar] (ptr/ptr)

Ad Placement